Image and video hosting by TinyPic Ia memiliki naluri yang cukup tinggi untuk berbisnis. Sejak tahun 1990, telah malang melintang menjalani usaha skala kecil. Pasang surut dunia bisnis pernah dialaminya. Berbagai masalah dan kendala tak membuat semangatnya surut. Kini, ia berhasil membuka sebuah toko meubel di kampung halamannya, di Desa Moutong, Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Wirda, barangkali agak beda dengan TKS lainnya. Tidak seperti kebanyakan TKS yang masih single, saat menjadi TKS pada tahun 2012, ia telah berstatus ibu rumah tangga dan telah memiliki tiga orang anak. Meski demikian, pengalamannya selama menekuni dunia wirausaha disusul kemudian menjadi TKS, tak kalah menariknya. Sejak tahun 1990, Wirda mencoba berbisnis kecil-kecilan. Berbagai jenis usaha telah ia coba, namun entah mengapa peruntungan belum berpihak kepadanya. Hingga pada tahun 2012 ia mendengar informasi dari kerabatnya tentang penerimaan calon tenaga kerja sarjana dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Parigi Moutong. Merasa tertarik dan ingin mencoba, iapun mendaftar. Beruntung, ia tak mendapatkan halangan sedikitpun ketika meminta dukungan dari keluarganya. Demikian halnya ketika meminta persetujuan sang suami untuk mengisi formulir kesepakatan dari keluarga sebagai salah satu persyaratan untuk menjadi tenaga kerja sarjana dan bertugas selama dua tahun. Tak lama berselang, Wirda mendapat panggilan untuk menjalani tes tertulis dan wawancara oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Tengah. Seminggu kemudian, Wirda mendapat kabar bahwa ia diterima sebagai salah satu dari tiga peserta yang lolos dan disiapkan menjadi pendamping dalam program tenaga kerja sarjana untuk wilayah Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah. “Saya bersyukur meski tidak muda lagi tapi saya berhasil mengungguli 56 orang pelamar lainnya,” aku Wirda senang. Pasca diterima sebagai pendamping masyarakat, Wirda mengikuti Pendidikan dan Latihan (Diklat) di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Tengah selama seminggu. Wirda bergabung bersama 60-an Tenaga Kerja Sarjana (TKS) lainnya dari seluruh Kabupaten di Sulawesi Tengah. Para peserta Diklat mendapatkan berbagai macam materi yang nantinya bermanfaaat ketika akan turun ke lapangan. Para pemateri yang dihadirkanpun sangat profesional di bidangnya.Materi yang diberikan mulai dari penjelasan tentang program pendayagunaan tenaga kerja sarjana hingga sistem manajemen perusahaan yang baik dalam pengelolaan usaha kecil dan menengah. Pihak perbankan juga dilibatkan untuk memberikan pemahaman tentang keuangan dan kredit di perbankan. “Selain itu juga diajarkan bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat dampingan dan bagaimana teknik pemasaran,” ujarnya. Semua disajikan dengan lengkap oleh pemateri dari akademisi Universitas Tadulako sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di Sulawesi Tengah. Berjuang Demi Pendampingan Berbekal ilmu yang diperoleh dalam pelatihan, Wirda langsung turun ke lapangan memulai tugas yang ia sebut sebagai pengabdian. Ia ditugaskan mendampingi kelompok produksi kerajinan batang kelapa pimpinan Aco Syamsudin di Kelurahan Kampal Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong. Bertempat tinggal di kota Palu Ibu Kota Sulawesi Tengah, yang berjarak 87 kilometer dari lokasi pendampingan, tak menyurutkan langkah Wirda untuk mengabdi. Dengan kendaraan roda dua, Wirda menempuh jarak minimal 2 jam demi melakukan pendampingan. “Untungnya anak-anak dan suami mendukung, jadi tidak berat langkah saya untuk mengabdi,” aku Wirda. Pertama kali melihat langsung lokasi pedampingan, Wirda sudah langsung bisa mengidentifikasi masalah yang dihadapi warga. Selain persoalan modal, usaha yang dikelola secara tradisional ini mengalami kesulitan pemasaran. “Usaha tersebut tanpa pengelolaan manajemen yang baik. Cashflow saja tidak tercatat dengan baik,” kata Wirda. Tak hanya manajemen yang buruk, persoalan modal tak kalah peliknya menyulitkan kelompok usaha ini. Mahalnya bahan baku yakni pohon kelapa, membuat modal yang harus dikeluarkan perajin cukup besar jika ingin menambah jumlah produksi. “Meski di Parigi Moutong banyak ditemui pohon kelapa tapi harga pohon kelapa yang siap digunakan untuk dijadikan bahan baku kerajinan cukup mahal. Sebatang mencapai Rp 350.000. Apalagi sebatang pohon kelapa maksimal hanya bisa digunakan sepanjang 8 meter saja,” jelas Aco. Belum lagi kendala pemasaran yang dihadapi kelompok usaha. Karena berbahan dasar pohon kelapa, kerajinan yang dihasilkan kelompok sangat berat. Artinya biaya untuk pengiriman menjadi melonjak sesuai beratnya. Dengan berbagai persoalan yang menyelimuti kelompok ini, Wirda tetap semangat mendampingi. Baginya, jika berusaha maksimal tentu hasil yang didapat akan sama beratnya. “Apa yang kita tanam tentu itulah yang akan kita tuai,” ungkapnya berperibahasa. Karena itu, ia tetap semangat mendampingi kelompok dan menularkan semangatnya itu ke anggota kelompok. Wirda menggenjot agar kelompok terus berproduksi di tengah berbagai persoalan yang melanda. Apalagi, kerajinan yang dihasilkan perajin sudah punya pelanggan tetap. Benar saja. Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, usaha kerajinan pimpinan Aco berhasil meraih keuntungan berlipat ganda. “Setelah mendapat pendampingan Wirda, penghasilan kami melonjak. Jika biasanya omzet kami hanya Rp 3 juta per bulan setelah didampingi Wirda menjadi Rp 10 – 12 juta per bulan,” aku Aco. Kelompok usaha ini menghasilkan berbagai macam model kerajinan tangan, mulai dari cobek dan ulekan, lesung, tea set, dan peralatan rumah tangga lain. “Karena yang paling banyak permintaan di pasaran adalah ulekan dan cobek. Maka saya minta kelompok fokus ke produksi 2 produk itu,” ujar Wirda. Strategi Wirda berhasil, untuk kerajinan cobek dan ulekan berhasil diproduksi hingga 100 buah setiap hari. Bahkan kelompok usaha ini berhasil membuka lapangan usaha baru yang berlokasi tidak jauh dari tempat usaha yang pertama. “Salah seorang mantan karyawan saya membuka jenis usaha yang sama secara mandiri,” ungkap Aco bangga. Apalagi usaha baru itu juga sekaligus bisa membuka lapangan kerja baru. Tak hanya omzet yang melonjak. Sejak hasil kerajinannya sering dibawa ke berbagai event pameran atau produk expo ke berbagai daerah seperti Jakarta , Surabaya, Bandung, Jogja dan beberapa daerah lainnya, Aco menjadi terkenal. Pria kelahiran 1967 ini oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Tengah ditunjuk sebagai instruktur dalam beberapa pelatihan, sebagai perajin yang sukses. Setelah Kelapa Merambah Lidi Sukses mendampingi kelompok usaha kerajinan pohon kelapa, Wirda dipercaya mendampingi kelompok usaha baru. Kali ini ia mendampingi usaha kerajinan anyaman dari lidi. . Lidi diolah menjadi keranjang, tudung saji, piring, tatakan gelas, tempat buah dan peralatan lainnya. Kelompok usaha anyaman lidi pimpinan Neltje (43 tahun) berlokasi di Desa Olobaru Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah. “Di Kampung ini, sebagian besar warganya memang berprofesi sebagai perajin lidi. Mereka menjadikan usaha ini sebagai salah satu penghasilan tambahan,” jelas Neltje. Wirda mengatakan proses dan hasil produksi perajin lidi sudah cukup bagus, hanya pemasarannya yang masih tradisional. “Pemasaran dilakukan secara tradisional ke tetangga dengan mengandalkan komunikasi dari mulut ke mulut saja,” kisah Wirda mengidentifikasi masalah yang dihadapi kelompok barunya. Wirda pun melakukan terobosan dengan memasarkan kerajinan hingga ke kota Palu. Hasilnya ternyata menggembirakan. Pemesanan melalui telepon dari Palu deras mengalir ke kelompok usaha kerajinan anyaman lidi. “Paling banyak yang dipesan itu piring anyaman lidi, karena dorang pake untuk acara pesta kawin,“ ungkap Neltje yang biasa di panggil Mama Kilong ini. Sayangnya, pengiriman barang masih dilakukan secara tradisional dan biaya masih dibebankan ke perajin. Perajin mengaku mengirimkan pesanan anyaman dengan membawanya langsung ke tempat pemesan. “Biasanya perajin mengirim menggunakan angkutan umum,” aku Neltje. Masalah timbul jika lokasi tempat pemesan tidak anda angkutan umum yang beroperasi. “Saya sedang usahakan kelompok ini mendapat bantuan modal agar mempermudah pengiriman barang sekaligus produksinya,” kata Wirda. Ia berharap kelompok barunya itu mendapat kucuran dana bantuan dari pemerintah. Jatuh Bangun Berwirausaha Sebagai seorang wirausahawan, Wirda bukanlah pemula. Ia sudah merasakan pahit getirnya sebagai seorang pengusaha. Sejak tahun 1990-an, ia sudah malang melintang di dunia usaha kecil . Meski usahanya tak berhasil bahkan mengalami kerugian tak menyurutkan langkah Wirda untuk terus dan terus berusaha. “Kegagalan itu sukses yan tertunda, kalimat itu yang terus ada di pikiran saya sehingga langkah saya selalu positif,” ujarnya menyemangati. Usaha Wirda baru menunjukkan hasil saat ia membuka usaha warung kopi di Kota Parigi Sulawesi Tengah tahun 2012. Keberhasilannya semakin bersinar saat ia berhasil membuka sebuah toko mebel di kampung halamannya di Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong tahun 2013. Bahkan kini ia telah punya restoran di Kota Palu yang saat ini sedang dalam proses renovasi bangunan. Setelah berkecimpung di dunia pendampingan, Wirda bermimpi ingin punya showroom di Kota Palu. “Showroom itu nantinya menjadi display barang-barang yang dihasilkan kelompok dampingan. Selain itu, pemesanan produk bisa dilakukan di sana,” katanya menerawang. Iwan Lapasere