Image and video hosting by TinyPic Jalan hiduplah yang membawa wanita kelahiran Yogyakarta 19 Mei 1984 ini ke tanah Porodisa, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Tanpa modal apa-apa, Cita Meriani Wati, mulai berkarya membangun bumi Nusa Utara. Daerah yang kini begitu dekat di hatinya. Panas menyengat kota Melonguane, siang itu. Kekeringan terjadi di mana-mana. Sudah lebih dari enam bulan kemarau menerjang daerah di paling utara republik ini. Namun, garangnya matahari tidak menghalangi semangat dan aktivitas seorang ibu muda. Dia sibuk memastikan semua kelengkapan administrasi, mulai dari absen, pas foto, serta data-data diri. Hari itu, tak kurang dari 51 warga dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kepulauan Talaud menerima ijasah pendidikan kesetaraan atau yang dikenal dengan Paket C. “Ada 51 warga yang ikut pendidikan Paket C atau setara dengan SMA/SMK,” ujar Citra Meriana Wati. Itulah aktivitas yang ada di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “Tunas Bangsa” yang terletak di Kelurahan Melonguane Barat, Kecamatan Melonguane. “Di PKBM ini ada lebih dari 200 warga yang belajar. Mulai dari pendidikan kesetaraan Paket B dan C, kewirausahaan mandiri, tata boga, tata rias pengantin, dan lainnya,” ujar Citra, lulusan Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Marturi Yogyakarta ini. Sebuah bangunan semi permanen dengan lantai beton berdiri di samping rumah Citra. Bagunan itu menjadi PKBM yang setiap harinya ramai didatangi warga masyarakat dari berbagai kecamatan. “Puji Tuhan, saya sudah bisa membangun gedung sederhana ini. Biar ada tempat warga berkumpul. Ini juga dari dana pribadi, kalau panen pala dan cengkih, saya dan suami sisihkan untuk membeli bahan-bahan bangunan. Setelah beberapa tahun mencukupi, barulah kami membangun gedung ini. Di tempat inilah semua kegiatan kami pusatkan dan koordinasikan,” ujar Citra yang dipersunting pemuda Talaud bernama Yuns Malaa ini. Tak jauh dari PKBM “Tunas Bangsa”, sekitar 10 menit menumpang mobil, tepatnya di Desa Kiama Barat, Kecamatan Melonguane, dijumpai kelompok usaha yang dijalankan para ibu rumah tangga. Sore itu, tak kurang dari delapan perempuan tengah sibuk membuat berbagai macam dodol. Ada yang sementara mengaduk adonan di dalam wajan berukuran besar, yang lainnya mengemas dodol yang sudah matang ke dalam kemasan-kemasan untuk siap dijual. Citra memantau langsung kegiatan ibu-ibu ini. “Ada berbagai jenis dodol yang kami kerjakan di sini. Semuanya menggunakan potensi sumber daya alam yang ada di Talaud. Mulai dari pala, mangga, pisang, hingga nangka. Yang paling banyak digemari adalah nangka, sementara cukup ribet dalam mengolahnya adalah pala,” ungkap Maria Pasiak, Ketua Kelompok Usaha “Surya Kibar Mandiri” yang mengolah dan memproduksi sejumlah jajanan dengan dodol sebagai andalannya. Maria menuturkan, kelompok usaha yang didampingi oleh Citra itu berupaya untuk tetap eksis meski tanpa bantuan dan dukungan pemerintah setempat. “Yang kami butuhkan sebenarnya adalah pemerintah, entah pusat atau daerah, memberikan bantuan dan dukungan. Kami tidak berharap modal usaha yang banyak, tapi paling tidak membantu dalam hal penyediaan kemasan. Karena kami memang kalah dalam hal packing. Padahal kualitas kemasan, selain menarik konsumen, juga menentukan berapa lama produk ini bisa bertahan,” tutur Maria, sambil menambahkan agar produk dodol itu bisa bertahan maka diperlukan waktu yang lebih lama dalam proses pengolahannya, karena mereka juga memilih untuk tidak menggunakan bahan pengawet. Maria, selain sebagai ketua kelompok yang mengawasi pekerjaan para ibu rumah tangga itu, dalam seminggu dia beberapa kali mengunjungi PKBM “Tunas Bangsa” untuk belajar dan menambah ilmu dari Citra. “Ibu Citra itu pintar, pekerja keras. Luar biasa dia. Dari Jawa mau datang dan berkarya di Talaud. Saya banyak belajar dari dia,” ujar Maria yang kini sering dipanggil memberikan pelatihan keterampilan masak-memasak untuk ibu-ibu. Kini, meskipun perlahan, kelompok usaha yang didampingi oleh Citra itu mulai mendapat pangsa pasar. “Pelanggan kami rata-rata orang kantoran, juga tamu-tamu yang datang ke Melonguane. Per bungkus kami jual dua puluh ribu rupiah. Dalam seminggu bisa hasilkan puluhan bungkus. Satu hal yang dibutuhkan juga adalah adanya semacam kios pusat penjualan oleh-oleh khas Talaud. Kami berharap pemerintah bisa memfasilitasi pembangunannya,” ujar Citra. Di Kelompok Usaha “Surya Kibar Mandiri” inilah, Citra memulai karya besarnya membangun daerah Talaud, sebagai Tenaga Kerja Sarjana (TKS) di tahun 2012. Sebelum akhirnya membangun sebuah PKBM “Tunas Bangsa” yang bisa melatih dan mengedukasi ratusan warga desa. Dari PAUD Berlanjut ke TKS Setelah menamatkan pendidikan di STAK Martura Yogyakarta tahun 2008, Citra memilih untuk mengikuti Yuns, sang pujaan hatinya ke Talaud. “Tanpa modal apa-apa, saya memilih meninggalkan Pulau Jawa, untuk merantau ke Talaud. Daerah yang tak pernah saya bayangkan bakal mengabdi di sana,” ujar Citra. Berada di tanah rantau, awalnya Citra bekerja sebagai fasilitator program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di tahun 2009. “Kerjanya kami membentuk dan mendampingi lembaga PAUD di 60 desa, di mana satu desa ada dua lembaga. Ternyata pekerjaan ini nantinya juga ikut menentukan keberhasilan sebagai TKS kelak,” tutur ibu dari bocah bernama Michael Malaa ini. Bekerja selama beberapa tahun sebagai fasilitator PAUD, Citra sempat mundur di tahun 2012. Saat itulah dia mendengar informasi dari salah seorang teman, bahwa ada program TKS. Tak tunggu lama, diapun langsung menghubungi Dinas Sosial dan Tenaga Kerja setempat. Apalagi keluarga sangat mendukung. “Keluarga sangat mendukung saya menjadi TKS. Apalagi pekerjaan ini tak jauh berbeda dengan fasilitator PAUD. Karena kita bekerja mendampingi masyarakat,” ujar dia. Nasib baik berpihak pada Citra. Dia dinyatakan lulus seleksi dan mengikuti pembinaan dan pelatihan di Manado. Setelah mendapat berbagai ilmu selama pelatihan itu, dia kebagian untuk mendampingi bidang kelompok usaha masyarakat. “Awalnya tidak hanya membuat usaha dodol. Tapi juga tahu, peternakan babi, dan akhirnya mendirikan PKBM itu,” tandas dia. Meski sudah banyak makan garam mendampingi masyarakat saat menjadi fasilitator PAUD, Citra tak menampik sejumlah kendala juga dihadapinya di lapangan. “Pernah satu kali, dalam sebuah rapat ada perdebatan panas antara dua ibu. Mereka bahkan bertengkar sambil memukul-mukul meja. Bahkan aparat desa tak mampu melerai. Setelah hampir setengah jam adu argumen, dan mungkin kelelahan, akhirnya mereka berhenti. Setelah berhenti, saya bilang ke mereka, sekarang kalian bertengkar lagi, tapi pakai bahasa Indonesia. Karena kalian tadi pakai bahasa talaud, dan saya tidak mengerti. Akhirnya semua pada tertawa, cair sudah suasana,” tutur Citra sambil tertawa. Menurutnya, banyak ditemui dalam satu kelompok, antar anggota tidak cocok. Potensi konflik juga sangat besar. “Nah, saya harus bisa hadir dan memberi solusi. Sehingga kelompok ini bisa berjalan dengan baik,” ujar Citra. Tak segan-segan, Citrapun harus tegas dalam membina sebuah kelompok. “Ada pembagian tugas sesuai jadwal, saya minta semua anggota kelompok komitmen menjalankan tugas yang ada. Menggerakkan usaha-usaha yang dikerjakan,” ujar dia. Membangun Kesadaran Datang dari latar belakang kultur, bahasa, serta kebiasaan yang jauh berbeda, memang tidak mudah bagi Citra untuk bisa “masuk” dan “mengambil hati” masyarakat setempat. Kultur Jawa yang halus, termasuk tutur katanya, tentu bertolak belakang dengan warga Talaud yang berkarakter keras. Mengajak warga untuk membangun usaha dan tidak hanya bergantung dari panen hasil bumi, juga bukan perkara mudah. “Proses transfer pengetahuan dan ketrampilan itu urusan kedua. Yang pertama adalah bagaimana bisa masuk dan membangun kesadaran masyarakat,” ujar Citra. Lalu apa strategi pendekatan yang dilakukan agar bisa diterima oleh masyarakat? “Saya naik turun rumah. Jalan-jalan. Duduk-duduk di dego-dego. Nimbrung bersama mereka, cerita, dengar keluh kesah mereka. Kadang saya kasih hadiah kain, atau jajanan, bahkan susu kedelai. Saya katakan, kalau ibu mau, ayo nanti saya ajarkan cara membuatnya. Gratis kok,” ujar Citra berkisah. Dari strateginya keluar masuk rumah itu, saat ini kian banyak warga yang mau belajar di PKBM “Tunas Bangsa” untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mereka. “Kalau dihitung berapa rupiah yang saya peroleh dari kerja sebagai TKS, tidak seberapa. Tapi hal penting yang dibuat adalah masyarakat sekarang sudah memiliki keterampilan dalam berbagai usaha. Masyarakat juga bisa berkesempatan mendapatkan ijasah melalui pendidikan kesetaraan. Artinya ada edukasi, ada pemberdayaan masyarakat. Dan itu modal berharga yang tak ternilai harganya,” papar Citra. Kini, setiap harinya dengan menggunakan sepeda motor, Citra mengunjungi desa-desa di Melonguane dan sekitarnya, mensosialisasikan keberadaan PKBM, sekaligus memberikan pelatihan pada fasilitator-fasilitator di desa. Selain itu, dia juga bertugas membuat jadwal kegiatan di PKBM yang memiliki empat staf tersebut. “Luar biasa memang mendapat kesempatan sebagai TKS. Saya banyak belajar, melengkapi pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki selama ini. Semuanya demi untuk pemberdayaan masyarakat. Saya senang, puas, ketika melihat masyarakat kini punya aktivitas. Mereka punya ketrampilan, dan dari kerja itu mereka juga mendapatkan keuntungan finansial,” pungkas Citra. (Yoseph Ikanubun)